Silakan Melihat Daftar Isi di Bagian Paling Bawah Blog Untuk Melihat Daftar Artikel Lengkap

Tuesday, 2 July 2013

Kesuma et al (dalam Slamet, 2010) menyatakan bahwa banyak siswa mampu menyajikan tingkat hafalan yang baik terhadap materi ajar yang diterimanya namun pada kenyataannya mereka tidak memahaminya. Belajar menghafal menciptakan ketidakmampuan untuk mengkoneksikan pengetahuan sebelumnya dengan pengetahuan baru siswa (Karakuyu, 2010). Siswa harus memiliki dasar yang cukup dan berpikir kritis tentang hubungan antara konsep yang berbeda. Belajar bermakna terjadi apabila informasi baru dikaitkan dengan konsep-konsep relevan yang ada pada struktur kognitif siswa (Dahar, 1989). Pengetahuan baru dikaitkan dengan konsep-konsep relevan yang telah
ada di dalam struktur kognitif anak agar terjadi pembelajaran bermakna.

Stoica et al (2011) menyatakan faktor tunggal yang paling penting yang mempengaruhi belajar adalah apa yang pelajar sudah tahu. Peta konsep merupakan kumpulan konsep-konsep yang saling berhubungan dengan hubungan tertentu antara pasangan konsep diidentifikasi pada link yang menghubungkan mereka (Awofala, 2011). Peta konsep merupakan suatu media grafis dua dimensi yang berfungsi mengorganisasikan dan merepresentasikan suatu pengetahuan, biasanya berupa beberapa gambar kotak atau lingkaran berisikan tulisan terkait mengenai konsep yang dipelajari (Slamet, 2010). Peta konsep adalah gabungan beberapa konsep yang menghubungkan pengetahuan individu dengan topik pembelajaran. Peta konsep dihasilkan dengan mengidentifikasi konsep-konsep yang relevan. Strategi metakognitif seperti peta konsep memungkinkan siswa untuk belajar aktif (Passmore et al, 2011).

Peta konsep digunakan untuk menyatakan hubungan yang bermakna antara konsep-konsep yang dihubungkan oleh kata-kata dalam suatu unit semantik. Suatu peta konsep dalam bentuknya yang paling sederhana, hanya terdiri atas dua konsep yang dihubungkan oleh satu kata penghubung untuk membentuk suatu proporsi. Peta konsep adalah teknik yang digunakan untuk mewakili hubungan antara konsep-konsep dalam grafik dua dimensi (Awofala, 2011). Karakuyu (2010) menyatakan peta konsep dapat dijadikan sebagai alat bantu yang sangat berguna untuk meningkatkan kebermaknaan belajar dan meningkatkan pemahaman siswa khususnya dalam pelajaran fisika dan sains. Peta konsep merupakan suatu strategi belajar mengajar yang mampu menjembatani antara bagaimana seseorang mempelajari sebuah pengetahuan dan bagaimana orang belajar secara rasional (Karakuyu, 2010).

Belajar bermakna lebih mudah berlangsung bila konsep-konsep baru dikaitkan pada konsep yang lebih inklusif, maka peta konsep harus disusun secara hierarki, bahwa konsep yang lebih inklusif ada di puncak peta, makin ke bawah konsep-konsep diurutkan menjadi lebih khusus. Dahar (1989) mengemukakan ciri-ciri peta konsep yaitu: (1) peta konsep atau pemetaan ialah suatu cara untuk memperlihatkan konsep-konsep dan proposisi-proposisi suatu bidang studi; (2) suatu peta konsep merupakan suatu gambar dua dimensi dari suatu bidang studi, atau suatu bagian dari bidang studi. Ciri inilah yang dapat memperlihatkan hubungan-hubungan proposional antara konsep-konsep; (3) cara menyatakan hubungan antara konsep-konsep. Tidak semua konsep mempunyai bobot yang sama, karena ada beberapa konsep yang lebih inklusif daripada konsep-konsep yang lain; dan (4) hierarki. Apabila dua atau lebih konsep digambarkan di bawah suatu konsep yang lebih inklusif, maka akan membentuk suatu hierarki pada peta konsep tersebut.

Karakteristik penting dari peta konsep adalah cross-link (Novak & Canas, 2008). Cross-link adalah hubungan antara konsep-konsep dalam segmen yang berbeda atau domain dari peta konsep. Cross-link membantu melihat bagaimana konsep dalam satu domain pengetahuan terkait dengan sebuah konsep dalam domain lain yang ditampilkan pada peta konsep. Cross-link sering mewakili lompatan kreatif sebagai bagian dari penghasil pengetahuan dalam penciptaan pengetahuan baru. Ada dua fitur peta konsep yang penting dalam fasilitasi berpikir kreatif yakni struktur hirearkis yang diwakili dalam peta konsep dan kemampuan untuk mencari serta mengkarakterisasi cross-link baru (Novak & Canas, 2008).

Nur (Trianto, 2007) menyebutkan ada empat macam peta konsep yaitu pohon jaringan (network tree), rantai kejadian (even chain), peta konsep siklus (cycle concept map), dan peta konsep laba-laba (spider concept map).

1) Pohon Jaringan (network tree)
Ide- Ide-ide pokok materi dituliskan dalam persegi panjang dan beberapa kata yang berfungsi sebagai keterangan dituliskan pada bagian garis. Garis-garis pada peta konsep menunjukkan hubungan antara ide-ide pokok yang dibuat.

2) Rantai Kejadian (events chain)
Peta konsep rantai kejadian digunakan untuk memerikan suatu urutan kejadian atau tahap-tahap dalam suatu proses. Ketika membuat peta konsep dengan rantai kejadian, pertama kita temukan satu kejadian yang mengawali rantai tersebut (kejadian awal). Selanjutnya kita meneruskan kejadian berikutnya dalam rantai hingga mencapai suatu hasil.

3) Peta Konsep Siklus (cycle concept map)
Dalam peta konsep siklus, rangkaian kejadian tidak menghasilkan suatu hasil akhir. Kejadian akhir pada rantai itu menghubungkan kembali ke kejadian awal. Seterusnya kejadian akhir itu menhubungkan kembali ke kejadian awal siklus itu berulang sendirinya dan tidak ada akhirnya..

4) Peta Konsep Laba-laba (spider concept map)
Peta konsep laba-laba dapat digunakan untuk curah pendapat. Pendapat ide-ide berasal dari suatu ide sentral dalam melakukan curah sehingga dapat memperoleh sejumlah besar ide yang bercampur aduk. Kita dapat memulainya dengan misahkan dan mengelompokkan istilah-istilah menurut kaitan tertentu sehingga menjadi lebih berguna dengan menuliskannya di luar konsep utama.

Manfaat Pembelajaran Peta Konsep
Pembelajaran dengan menggunakan peta konsep mempunyai banyak manfaat. Ausubel menyatakan dengan jaringan konsep yang digambarkan dalam peta konsep, belajar menjadi bermakna karena pengetahuan atau informasi baru dengan pengetahuan terstruktur yang telah dimiliki siswa tersambung sehingga menjadi lebih mudah terserap siswa (Wahidi, 2010).

Adapun manfaat pembelajaran dengan menggunakan peta konsep yang dinyatakan (Novak & Gowin, 1985).

1) Bagi Guru

a) Pemetaan konsep merupakan cara terbaik menghadirkan materi pelajaran, hal ini disebabkan peta konsep adalah alat belajar yang tidak menimbulkan efek verbal bagi siswa dengan mudah melihat, membaca, dan mengerti makna yang diberikan.
b) Pemetaan konsep menolong guru memilih aturan pengajaran berdasarkan kerangka kerja yang hierarki, hal ini mengingat banyak materi pelajaran yang disajikan dalam urutan yang acak.
c) Membantu guru meningkatkan efisiensi dan efektifitas pengajarannya.

2) Bagi Siswa

a) Pemetaan konsep merupakan cara belajar yang mengembangkan proses belajar bermakna, yang akan meningkatkan pemahaman siswa dan daya ingatnya.
b) Meningkatkan keaktifan dan kreativitas berfikir siswa, hal ini menimbulkan sikap kemandirian belajar yang lebih pada siswa.
c) Mengembangkan struktur kognitif yang terintegrasi dengan baik yang akan memudahkan dalam belajar.
d) Membantu siswa melihat makna materi pelajaran secara lebih komprehensif dalam setiap komponen-komponen konsep dan mengenali hubungan.

Dahar (1989) mengungkapkan tujuan penting penggunaan peta konsep dalam menunjang berlangsungnya proses belajar bermakna yaitu: (1) menyelidiki apa yang telah diketahui oleh siswa; (2) mempelajari cara belajar siswa; (3) mengungkapkan miskonsepsi yang muncul pada siswa; dan (4) sebagai alat evaluasi. Selain itu, peta konsep bermanfaat untuk memperoleh skema kognitif dan menargetkan pemahaman konsep yang mendalam.

Pembuatan Peta Konsep
Dahar (1989) mengungkapkan bahwa peta konsep memegang peranan penting dalam belajar bermakna. Langkah-langkah berikut ini dapat diikuti oleh siswa untuk menciptakan suatu peta konsep.

Langkah 1 : mengidentifikasi ide pokok yang melingkupi sejumlah konsep.
Langkah 2 : mengidentifikasi ide-ide atau konsep-konsep sekunder yang menunjang ide utama.
Langkah 3 : menempatkan ide utama di tengah atau di puncak peta tersebut.
Langkah 4 : mengelompokkan ide-ide sekunder di sekeliling ide utama yang secara visual menunjukan hubungan ide-ide tersebut dengan ide utama.

Berdasarkan pendapat di atas dapat dikemukakan langkah-langkah menyusun peta konsep sebagai berikut.

1) Memilih suatu bahan bacaan
2) Menentukan konsep-konsep yang relevan
3) Mengelompokkan (mengurutkan) konsep-konsep dari yang paling inklusif ke yang paling tidak inklusif
4) Menyusun konsep-konsep tersebut dalam suatu bagan, konsep-konsep yang paling inklusif diletakkan di bagian atas atau di pusat bagan tersebut.
Klik "Show" Untuk Melihat referensi
Awofala, A. O. A. 2011. Effect of concept mapping strategy on students’ achievement in junior secondary school mathematics. International Journal of Mathematics Trends and Technology. 2(3): 11-16. Tersedia pada http://www. ijmttjournal. Org/Volume-2/ issue-3 /IJMTTV2I3P 504.pdf.

Dahar, R. W. 1989. Teori-teori belajar. Bandung: Erlangga.

Karakuyu, Y. 2010. The effect of concept mapping on attitude and achievement in a physics course. International Journal of The Physical Sciences. 5(6): 724-737. Tersedia pada www.academicjournals.org/ijps/PDF/pdf2010/ Jun/Karakuyu.pdf.

Mistades, V. M. 2009. Concept mapping in introductory physics. Journal of Education and Human Development 3(1). Tersedia pada http://www. scientificjournals.org/ journals2009/articles/1427.pdf

Novak, J. D. & CaƱas, A. J. 2008. The theory underlying concept maps and how to construct and use them. Technical Report IHMC CmapTools. Tersedia pada http://cmap. ihmc. us/ Publications/ ResearchPapers/ Theory Under-lying Concept Maps.pdf.

Passmore, Gregory G., & Mary A. O. 2011. Empirical evidence of the effectiveness of concept mapping as a learning intervention for nuclear medicine technology students in a distance learning radiation protection and biology course. J of Nuclear Medicine Technology. 39(4): 1-6. Tersedia pada http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/22080436.pdf.

Slamet, K. 2010. Pengaruh model pembelajaran kontekstual dengan peta konsep terhadap pemahaman konsep fisika Siswa kelas VIII SMP Negeri 7 Singaraja Tahun pelajaran 2010/2011. Skripsi (Tidak diterbitkan). Jurusan Pendidikan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Pendidikan Ganesha.

Stoica, I., Moraru, S., & Miron, C. 2011. Concept maps, a must for the modern teaching-learning process. Romanian Reports in Physics. 63(2): 567–576. Tersedia pada http://www. infim. ro/rrp/2011_63_2/art 22 Stoica.pdf.

Trianto. 2007. Model-model pembelajaran inovatif berorientasi konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka.

Wahidi, A. 2010. Peta konsep untuk melatih ketrampilan berpikir. Artikel. Tersedia pada http://www.infodiknas.com/peta-konsep-untuk-melatih-ketrampilan-berpikir/.

0 komentar:

Post a Comment

Silakan tinggalkan komentar untuk kemajuan blog ini

 
Copyright 2009 MEDIA FUNI@